Teruslah Membaik



Membaik dan semakin membaik... Ya itulah sering menjadi tujuan hati manusia. Pada dasarnya tiap orang memiliki tujuan mulia di dalam hati nuraninya, yakni terus membaik dalam kehidupannya. Namun mengapa ada orang yang "jahat" dalam kehidupan kita? Well, sebenarnya jahat itu didasarkan oleh suatu kepentingan pribadinya baik karena alasan bertahan hidup, ego, dendam, emosi, dan lain-lain. Secara neurosains, otak manusia memang dikendalikan oleh berbagai macam program kehidupan. Sementara hati nurani yang pada dasarnya adalah mesin penerima pesan Tuhan terkadang terkoyak oleh pikiran. 

Di era informasi seperti saat ini, banyak sekali kita menelan program ketidakbahagian yang datang dari berbagai penjuru. Berita datang dari sana sini yang mempengaruhi stimulus otak dan terekam sehinggal otak berupa pikiran kita sering mengoyak-ngoyak kebahagian hati. Lihat saja orang yang yang tidak pernah update berita terkadang mereka tidak terlalu khawatir dengan kehidupannya. 

Sebenarnya kita selalu bermasalah dengan diri kita sendiri. Tidak ada luka hati pada diri kita sendiri tanpa ada persetujuan dari diri kita sendiri. Kayaknya statement tersebut mungkin banyak diantara pembaca yang kurang setuju. It's no problem... Sekarang saya ambil contoh sebuah cabe (bukan cabe-cabean loh...) Jika ada cabe dengan berbagai macam warna ada hijau, kuning, dan merah maka apa yang ada di benak Anda? Pasti ada yang berkomentar "Saya nggak suka cabe karena pedas", "Saya suka cabe yang hijau", "Saya suka cabe yang merah", "Ah,,, Biasa aja... semua cabe Ok bagi saya".


Dari komentar tersebut, yang salah itu cabenya atau pengamatnya? Ya itulah nilai subjektivitas individual masing-masing. Apa yang melatar belakangi dari berbagai komentar cabe tersebut? Yang jelas banyak sekali variabel kehidupan yang mempengaruhi diri kita. Mulai dari pendidikan, lingkungan sekitar, pengalaman pribadi, dan lain-lain.

Hal serupa pun terjadi dalam kehidupan kita. Apa sih yang melandasi pola pikir kita? Mulai dari rasa fanatisme hingga biasa-biasa saja. Tentunya itu sudah terprogram di otak kita dari pengalaman kehidupan kita,

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »