Aktualisasi Diri Manusia: Bermanfaat Bagi Segala Aspek

Well, bicara soal kebutuhan manusia memang tidak ada habisnya. Dulu waktu sekolah dasar saya diajari bahwa kebutuhan utama manusia itu ada tiga yakni: Sandang, Pangan dan Papan. Hidup itu yang penting punya Sandang (Pakaian), Pangan (Makanan), dan Papan (Tempat Tinggal) itu sudah cukup.

Mungkin opini kebanyakan orang awam memang seperti ini. So, wajar saja karena kebanyakan fokus di level survival alias yang penting gue bisa makan dan hidup. Nah loh... trus kalau hidup hanya fokus pada diri sendiri atau kelompoknya itu sih sah-sah saja.

Ada petuah Jawa nih yang mengatakan urip iku kudu urup yang artinya Hidup itu Harus Menyala (bukan kayak Johnny Storm di serial Fantastic Four loh...). Maksud petuah itu artinya hidup kita harus bermanfaat bagi orang lain. Paling tidak kalau kita tidak bisa memberikan yang terbaik bagi orang lain ya kita tidak mengecewakan orang lain atau merugikan orang lain.

Hal senada juga diucapkan oleh Giaccomo Girrolamo Cassanova: "Be the LAMP, not the MOTH!!!" (Jadilah Lampu, jangan jadi Ngengat!!!) Ya setidaknya bagi kaum muslim istilah itu rahmatan lil 'alamin...

Kata Pak Maslow nih... kebutuhan manusia itu secara hirearki dapat dibagi menjadi 5 yang digambarkan dalam bentuk piramida seperti gambar di bawah ini:





Dari piramida tersebut kebutuhan manusia dilandasi oleh kemampuan fisiologis seperti makan, tidur, sex, dll. Kebutuhan selanjutnya adalah rasa aman dan perlindungan. Selanjutnya ada kebutuhan rasa cinta baik dalam bentuk personal, lingkungan keluarga maupun kelompok tertentu. 

Adapaun untuk kebutuhan berikutnya yakni rasa pengakuan diri disuatu elemen kehidupan masyarakat. Bisa ditunjukkan dengan harta, jabatan, tahta, prestasi, dan sebagainya. Sementara di puncak piramida adalah kebutuhan Aktualisasi Diri, yakni dimana seseorang merasa dirinya ecosentris bukan mengedapankan rasa egosentris-nya. Orang yang memiliki rasa sifat ecosentris alias cenderung ingin memberikan kontribusinya kepada orang lain dan lingkungannya melalui berbagai macam aspek kehidupan bisa melalaui bisnis, keilmuan, pemerintahan, dll.

Di puncak tertinggi dalam piramida Maslow tersebut benar-benar orang yang memiliki nurani yang luar biasa. Tak semua orang bisa menggapai piramida puncak tersebut. Banyak faktor dan variabel memang yang mempengaruhinya.

Seperti halnya Nabi sebagai seorang saudagar yang ingin merangkul semua golongan ketika beliau menjadi seorang pebisnis dengan cara kejujuran dan amanahnya. Sehingga orang merasa sekitar merasa menjadi nyaman dengan beliau.

Begitu juga ketika seseorang yang punya sifat Aktualisasi Diri yang melekat pada penguasa, maka dia akan berusaha akan mengayomi. Sulit memang kita menilai seseorang secara subjektif bahkan secara objektif dari pribadi orang yang kita pilih dalam sebuah pemerintahan. Karena hal itu sifatnya halus dalam hati kita yakni 'rasa'. 

Saya pernah mengikuti pelatihan Quantum Ikhlas selama tiga hari yang dibimbing oleh Bapak Erbe Sentanu yang mengatakan bahwa, akar permasalahan manusia untuk menggapai apa yang diinginkan adalah harus melepaskan rasa keterikatan tiga nafsu yakni nafsu ingin mengatur, nasfu ingin diakui, dan nafsu rasa takut.

Jika saya mengaitkan ketiga nafsu tersebut dengan piramida Maslow, maka saya dapat membuat korelasi bahwa ketiga nasfu tersebut masih melekat di keempat level dibawah. Ya.. hal itu karena manusia masih belum sadar atau bahkan sudah sadar bahwa dirinya membutuhkan ketiga nafsu tersebut.

Finally, ending dari tulisan ini saya hanya mengatakan, apapun latar belakang kehidupan kita maka yuk kita bareng-bareng menggapai puncak tertinggi dari piramida Maslow yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Share this

Related Posts

First